Manado — Kepala Disperindag Kota Manado, Hendrik Warokka, mengatakan daerahnya tidak terpengaruh dengan kenaikan harga pangan global. "Kita bersyukur sampai saat ini harga dan stok pangan di sentra perdagangan Kota Manado masih dalam kondisi stabil dan aman," ujarnya di Manado, Kamis (30/4).
Data harga bahan pokok di Manado menunjukkan situasi terjaga. Bawang merah berada di level Rp45.000 per kilogram, bawang putih Rp35.000 per kilogram, dan cabai merah keriting Rp20.000 per kilogram. Sementara telur ayam dijual Rp60.000 hingga Rp70.000 per baki, minyak Rp17.000 per kilogram, beras SPHP 5 kilogram Rp62.500 hingga Rp65.000, dan beras premium 5 kilogram Rp75.000 hingga Rp85.000.
Untuk menjaga keberlanjutan stabilitas ini, Disperindag telah membentuk tim khusus yang melakukan pemantauan dan pengawasan bahan pangan setiap hari. Tim tersebut beroperasi di sejumlah pasar tradisional dan retail modern guna mengantisipasi dampak potensial dari fluktuasi harga pangan global.
Langkah proaktif ini diambil seiring berbagai informasi yang berkembang tentang tekanan harga pangan di tingkat internasional. Namun, kondisi lokal Manado masih menunjukkan resiliensi yang baik dalam menghadapi dinamika pasar global tersebut.
Warokka menekankan bahwa Sulawesi Utara memiliki keunggulan geografis yang mendukung produksi pangan. "Tanah di Sulut sangat subur sehingga semua tumbuhan bisa bertumbuh dengan baik, sehingga masyarakat bisa mendapatkan pangan dari pekarangan rumah, ataupun kebun sendiri," katanya.
Dalam rangka mendorong kemandirian pangan, Pemkot Manado menyiapkan bibit-bibit tanaman pangan yang dapat diperoleh masyarakat secara gratis untuk ditanam di pekarangan rumah. "Jika setiap keluarga di Manado melakukan penanaman cabai, tomat, bawang di rumah masing-masing, maka kita mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri setiap hari, tanpa harus ke pasar," tutur Warokka.
Pemerintah Kota Manado berkomitmen untuk terus menjaga agar stok dan harga pangan di sentra perdagangan tetap stabil dan terkendali. Upaya ini diprioritaskan karena bahan pangan menjadi penyumbang terbesar inflasi di Sulawesi Utara, sehingga menjaganya berarti turut menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan di daerah.