Manado — Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus memimpin langsung upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di halaman Kantor Gubernur, Sabtu (2 Mei 2026), menjadikan momentum tersebut sebagai refleksi penting arah pembangunan pendidikan daerah. Dalam sambutannya, Selvanus menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan fondasi utama pembangunan bangsa sekaligus instrumen strategis untuk meningkatkan martabat masyarakat.
Upacara yang dihadiri ratusan pelajar, kepala sekolah, dan pejabat daerah itu menjadi penanda komitmen pemerintah Sulut untuk mempercepat transformasi sektor pendidikan. Selvanus secara eksplisit menyoroti pentingnya aksesibilitas dan kualitas pembelajaran tanpa memandang latar belakang ekonomi peserta didik.
Program Revitalisasi 248 Sekolah Berbiaya Rp231 Miliar
Pemerintah Sulawesi Utara meluncurkan program konkret revitalisasi infrastruktur pendidikan yang mencakup renovasi 247 sekolah dan pembangunan 1 sekolah baru dengan total anggaran mencapai Rp231 miliar. Langkah ini merupakan respons terhadap tantangan akses pendidikan di wilayah kepulauan dan daerah terpencil yang masih menghadapi keterbatasan infrastruktur.
Selain perbaikan fisik bangunan, pemerintah juga memperluas distribusi perangkat teknologi pendidikan seperti interactive flat panel (IFP) guna mendukung transformasi pembelajaran digital di sekolah-sekolah. Investasi teknologi ini dirancang untuk meningkatkan kualitas mengajar dan mempersiapkan peserta didik menghadapi era digital.
Pendidikan Inklusif sebagai Prioritas Utama
"Pendidikan harus inklusif, bermutu, dan berkemajuan. Tidak boleh ada anak bangsa yang tertinggal, baik dari sisi akses maupun kualitas pembelajaran," tegaskan Yulius Selvanus dalam sambutannya. Pernyataan itu menekankan komitmen pemerintah untuk menghapus kesenjangan pendidikan lintas geografis dan ekonomi di Sulut.
Gubernur juga menyentuh peran pendidikan sebagai penggerak mobilitas sosial. Menurutnya, sistem pendidikan yang baik akan membuka peluang bagi masyarakat meningkatkan taraf hidup serta berkontribusi dalam pembangunan daerah dan nasional. Perspektif ini sejalan dengan target Indonesia Emas 2045 yang membutuhkan sumber daya manusia berkualitas tinggi.
Filosofi Ki Hajar Dewantara Diterapkan di Satuan Pendidikan
Dalam kesempatan tersebut, Selvanus mengingatkan pentingnya filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara melalui sistem among: asah, asih, dan asuh. Filosofi ini menekankan bahwa pendidikan harus dilandasi ketulusan mengajar, kasih sayang kepada peserta didik, dan pendampingan berkelanjutan tanpa henti.
"Kita tidak hanya mencetak generasi cerdas, tetapi juga beriman, berakhlak mulia, terampil, dan memiliki tanggung jawab sosial. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia," ujar Selvanus. Penekanan pada karakter dan akhlak ini mencerminkan pendekatan holistik pemerintah Sulut terhadap pengembangan sumber daya manusia.
Tantangan Kepulauan Memerlukan Sinergi Multisektor
Meskipun berbagai capaian telah diraih, Selvanus mengakui tantangan serius masih terdapat pada infrastruktur pendidikan di wilayah kepulauan dan daerah terpencil. Kondisi geografis yang fragmentasi membuat distribusi sumber daya pendidikan menjadi kompleks dan membutuhkan strategi khusus.
Gubernur mengajak seluruh pihak bersinergi mulai dari pemerintah daerah, tenaga pendidik, orang tua, hingga dunia usaha. "Pendidikan bukan tanggung jawab satu pihak. Ini kerja bersama demi masa depan Sulawesi Utara dan Indonesia," tandas Selvanus, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mencapai target pendidikan berkualitas.
Program revitalisasi 248 sekolah ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama membangun sumber daya manusia unggul menuju visi Indonesia Emas 2045.