Perusahaan antariksa swasta China, CAS Space, resmi mengoperasikan fasilitas manufaktur terintegrasi di Shaoxing untuk memproduksi roket Kinetica-2 secara massal. Langkah ini menandai pergeseran strategi Beijing dari sekadar pengejaran rekor antariksa menjadi rutinitas industri berskala besar yang kompetitif. Kehadiran "superpabrik" ini diproyeksikan mampu menjawab lonjakan permintaan peluncuran satelit komersial di kawasan Asia dan global.
Dominasi China di ruang angkasa kini memasuki babak baru yang lebih pragmatis dan industrialis. Melalui CAS Space, negara tersebut baru saja merampungkan pembangunan fasilitas ambisius di Provinsi Zhejiang yang mereka sebut sebagai "superpabrik". Pabrik ini dirancang khusus untuk memproduksi roket berbahan bakar cair Kinetica-2 dengan target kapasitas hingga 12 unit per tahun saat mencapai produksi penuh.
Fasilitas di Shaoxing ini bukan sekadar gudang perakitan akhir yang biasa kita lihat pada industri dirgantara konvensional. CAS Space mengintegrasikan seluruh rantai produksi mulai dari pembuatan komponen inti seperti tangki propelan, pipa, katup, hingga struktur antar-tahap dalam satu atap. Integrasi ini memangkas ketergantungan pada rantai pasok eksternal yang sering kali menjadi titik hambat dalam kecepatan peluncuran roket.
Salah satu inovasi utama yang dibawa ke dalam pabrik ini adalah penerapan pulse assembly line atau lini perakitan berbasis pulsa. Li Qinfeng, Wakil Kepala Desain Kinetica-2, menjelaskan bahwa metode ini memungkinkan perakitan paralel beberapa roket sekaligus. Pendekatan ini mengadopsi logika industri otomotif yang mengandalkan arsitektur modular standar dan komponen umum untuk mempercepat siklus pesanan.
Strategi modularitas ini krusial bagi China untuk memenangkan pasar peluncuran satelit komersial. Dengan komponen yang terstandarisasi, biaya produksi dapat ditekan secara signifikan sementara fleksibilitas jadwal peluncuran meningkat. Bagi operator satelit, termasuk potensi kerja sama dengan negara-negara di Asia Tenggara, efisiensi ini berarti biaya akses ke orbit yang lebih terjangkau.
Roket Kinetica-2 sendiri telah mencatatkan penerbangan perdananya pada 30 Maret 2026 dengan membawa muatan satelit demonstrasi teknologi New March 01 dan 02. CAS Space menargetkan setidaknya sepuluh penerbangan tambahan sebelum akhir 2028. Rangkaian misi ini sangat penting untuk menguji teknologi penggunaan kembali (reusability) secara bertahap.
Meskipun pabrik telah diresmikan, CAS Space memperkirakan butuh waktu dua tahun pertama untuk optimasi proses dan penjaminan kualitas. Kapasitas penuh sebanyak 12 roket per tahun kemungkinan baru akan tercapai dalam rentang tiga hingga lima tahun ke depan. Ini adalah maraton teknologi, bukan sprint, di mana presisi manufaktur tetap menjadi prioritas di atas kecepatan murni.
Ambisi China membangun superpabrik ini didorong oleh target nasional yang sangat agresif. Tahun ini, China diprediksi akan melakukan lebih dari 100 peluncuran ruang angkasa, dengan lebih dari 60 misi di antaranya adalah misi komersial. Sektor swasta diharapkan mengambil porsi signifikan dengan target lebih dari 30 peluncuran satelit mandiri.
Urgensi untuk beralih ke proses produksi yang repetitif menjadi sangat masuk akal dalam konteks angka tersebut. Tanpa jaringan produksi yang mampu menyuplai peluncur secara konsisten, setiap misi antariksa akan tetap menjadi proyek khusus yang mahal dan memakan waktu lama. China sedang berusaha mengubah peluncuran roket dari sebuah pencapaian luar biasa menjadi sekadar rutinitas logistik harian.
Bagi industri teknologi global, manuver CAS Space ini adalah sinyal kuat bahwa persaingan ruang angkasa tidak lagi hanya soal siapa yang paling jauh, tetapi siapa yang paling efisien dalam memproduksi massal. Jika superpabrik ini berhasil mencapai targetnya, peta persaingan peluncuran satelit komersial dunia dipastikan akan berubah secara drastis dalam lima tahun ke depan.