SULAWESI UTARA — Leicester City melakoni laga putaran pertama FA Cup melawan Oxford City di MGroup Stadium, markas klub kasta keenam, dengan taruhan reputasi besar di pundak manajer Russell Martin. Kekalahan atas tim non-liga berpotensi menjadi noda yang sulit dihapus dari karier pelatih berusia 40 tahun itu.
Bus tim Leicester City akan menyusuri Marsh Lane dan berbelok ke jalan sempit menuju MGroup Stadium, venue berkapasitas 3.500 penonton yang jauh dari standar King Power Stadium. Perjalanan ke Oxfordshire itu sendiri sudah menjadi cermin betapa jauh Leicester merosot, lima tahun setelah mengangkat trofi FA Cup di Wembley dan sepuluh tahun setelah menjuarai Premier League.
Oxford City bukan lawan sembarangan di levelnya. Klub Liga Nasional Utara itu kini menempati posisi kedua dan diperkuat sejumlah mantan pemain EFL, termasuk Fernando Forestieri yang pernah membela Sheffield Wednesday dan Watford, serta Matty Taylor, eks striker Bristol City dan Oxford United. Stadion akan penuh, penonton duduk rapat di pinggir lapangan.
Rekam Jejak Martin yang Terjun Bebas dalam Dua Tahun
Nama Martin sempat melambung sebagai salah satu pelatih muda paling menjanjikan di Inggris. Di MK Dons pada 2020/21, timnya mencatat persentase penguasaan bola tertinggi ketiga di Eropa setelah Manchester City dan Barcelona, dengan satu gol ke gawang Gillingham lahir dari rangkaian 56 umpan, rekor Inggris.
Southampton merekrutnya pada 2023 dan ia membawa klub promosi ke Premier League lewat 25 laga tak terkalahkan serta kemenangan di final play-off atas Leeds United. Direktur sepak bola Manchester United, Jason Wilcox, bahkan sempat menandainya sebagai kandidat manajer masa depan Setan Merah.
Dalam enam bulan, semuanya runtuh. Martin dipecat Southampton pada Desember 2024 dengan tim di dasar klasemen, hanya mengumpulkan lima poin dari 16 pertandingan. Ia lalu menangani Rangers pada musim panas 2025, tetapi hanya bertahan 123 hari, masa jabatan terpendek manajer permanen dalam sejarah klub.
Kritik Suporter: Dari "Clown" hingga Obsesi Penguasaan Bola
Leicester menunjuk Martin pada Juni lalu saat bersiap menghadapi League One setelah dua kali degradasi berturut-turut. Kekecewaan fans memuncak setelah kekalahan 4-0 dari Oxford United di King Power Stadium pada September.
Komentar di media sosial klub setelah Leicester dua kali membuang keunggulan dan bermain imbang 2-2 melawan Stevenage akhir pekan lalu menggambarkan tekanan yang ia hadapi. "Selama dia masih di sini, kita tetap di League One. Pilihan pemain, taktik, pergantian, semua dipertanyakan," tulis satu penggemar. Penggemar lain menyebut Martin "one-trick pony" yang obsesi penguasaan bolanya membuat tim mudah terbaca lawan.
Kritik soal kekakuan taktik memang beralasan. Penolakan Martin mengubah pendekatan mempercepat kejatuhannya di Southampton dan ikut menyumbang hasil buruk Leicester musim ini. Sejak membawa Southampton promosi, ia hanya menang 15 dari 53 pertandingan.
Satu Kemenangan Belum Cukup, tapi Kekalahan Bisa Fatal
Ada tanda perbaikan. Leicester mengumpulkan 10 poin dari lima laga terakhir, performa terbaik Martin dalam periode tersebut. Namun setiap kali Leicester kehilangan poin, kritik langsung mengarah ke bangku cadangan.
Laga melawan Oxford City disiarkan langsung televisi dan memiliki semua bumbu kejutan FA Cup. Satu-satunya yang absen adalah lapangan berlumpur, karena Oxford City memakai permukaan sintetis 3G yang seharusnya memudahkan Leicester mendominasi bola.
Kemenangan tanpa drama mungkin mulai mengubah narasi sekitar Martin, meski satu hasil atas tim non-liga tidak serta-merta mengembalikan kepercayaan. Sebaliknya, kekalahan akan menjadi bukti yang diklaim para pengkritiknya selama ini.