SULAWESI UTARA — Pekan ini menjadi momentum penting bagi dunia astronomi dan robotika. Observatorium Vera C. Rubin di Chile resmi memulai survei Legacy Survey of Space and Time (LSST), proyek pemotretan langit paling ambisius yang memakan waktu lebih dari dua dekade perencanaan. Di sisi lain, tim ilmuwan dari Nanyang Technological University Singapura dan Waseda University Jepang mengumumkan terobosan yang tak kalah unik: kecoa cyborg yang bisa menyelam.
Kamera 3.200 MP Rekam Langit Setiap 40 Detik
Rubin Observatory memulai kampanye pengamatannya pada 30 Juni lalu. Selama sepuluh tahun ke depan, observatorium ini akan menangkap gambar baru setiap 40 detik, menghasilkan sekitar seribu foto per malam atau setara dengan sepuluh terabyte data harian.
"Hari ini, kita mulai merekam film kosmik terbesar yang pernah dibuat," kata Brian Stone dari National Science Foundation dalam pengumuman resmi. Observatorium ini sudah menjalani uji coba musim panas lalu dan berhasil menangkap jutaan galaksi, bintang, serta ribuan asteroid yang sebelumnya tak terdeteksi.
Setiap titik di langit akan dikunjungi ulang sekitar 800 kali selama masa survei. Tujuannya: merekam perubahan dan peristiwa kosmik, dari objek di tata surya kita hingga misteri energi gelap dan materi gelap yang mengatur ekspansi alam semesta. "Kami tidak sekadar mengamati bintang, tapi berusaha memahami hukum fundamental yang mengatur keberadaan kita," ujar Darío Gil, pejabat sains dari Departemen Energi AS.
Kecoa Cyborg Dilengkapi Tabung Oksigen Mini
Di laboratorium lain, penelitian yang mungkin membuat geli sebagian orang justru membawa potensi penyelamatan jiwa. Tim peneliti dari Singapura dan Jepang mengembangkan pakaian selam fleksibel untuk kecoa hiss Madagaskar yang sudah dipasangi kontroler elektronik—menjadikannya kecoa cyborg.
Pakaian selam ini terdiri dari tangki penghasil oksigen, cangkang fleksibel, dan empat tabung silikon yang dipasang ke spirakel (lubang pernapasan) kecoa. Hasil uji coba yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications pekan ini menunjukkan kecoa cyborg mampu berenang di bawah air hingga tiga jam. Setelah misi selesai, tabung bisa dilepas tanpa melukai serangga tersebut.
Lantas, untuk apa kecoa harus diselamkan? Tim peneliti menjelaskan, serangga cyborg punya potensi besar dalam operasi pencarian dan penyelamatan. Mereka bisa menjangkau ruang sempit yang tak bisa dimasuki manusia, hewan, atau robot berukuran besar. Kecoa cyborg bahkan sudah pertama kali dikerahkan di Myanmar musim semi lalu untuk membantu pencarian korban gempa bumi dahsyat. Lingkungan banjir yang biasanya menjadi penghalang kini bisa diatasi berkat pakaian selam mini ini.
NASA Pilih Tiga Perusahaan untuk Kirim Muatan ke Bulan pada 2028
Badan antariksa AS, NASA, melanjutkan rencana pembangunan pangkalan bulan senilai 20 miliar dolar AS. Setelah mengumumkan empat misi baru ke Bulan yang dijadwalkan pada akhir 2028, NASA memberikan kontrak senilai total hampir 600 juta dolar AS (sekitar Rp 9,9 triliun) kepada Astrobotic, Firefly Aerospace, dan Intuitive Machines.
Astrobotic akan menjalankan dua misi, sementara dua perusahaan lain masing-masing satu misi. Semua pendarat akan menggunakan versi terbaru dari desain masing-masing perusahaan berdasarkan pengalaman dari program Commercial Lunar Payload Services (CLPS) NASA sebelumnya.
Setiap misi akan membawa muatan yang identik: kamera stereo SCALPSS untuk data pendaratan, reflektor laser LRA untuk navigasi presisi di orbit Bulan, serta spektrometer LETS untuk mengukur radiasi luar angkasa. NASA sengaja menerbangkan instrumen yang sama di beberapa pendarat agar data yang terkumpul lebih konsisten dan bisa dibandingkan. Tiga misi pertama untuk mengirim muatan ke permukaan Bulan dijadwalkan sebelum akhir 2026.