MANADO — Investor di Sulawesi Utara diminta mencermati gejolak pasar keuangan global dan domestik yang terjadi secara bersamaan. Di satu sisi, Bank Indonesia menaikkan suku bunga untuk menahan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Di sisi lain, pasar aset digital seperti Bitcoin dan Ethereum mengalami tekanan akibat aksi jual institusi besar di Amerika Serikat.
Keputusan BI menaikkan BI-Rate menjadi 5,50% langsung berdampak pada sentimen pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat tertekan tajam sebelum menunjukkan pemulihan terbatas setelah pengumuman tersebut. Pelaku pasar kini masih menanti perkembangan kebijakan moneter negara-negara besar dan pergerakan arus modal internasional.
Dana Keluar dari ETF Bitcoin Capai US$4,4 Miliar
Dari sisi aset digital, tekanan terbesar datang dari arus keluar dana ETF Bitcoin di Amerika Serikat. Data Market Outlook FLOQ mencatat, sejak pertengahan Mei 2026, dana yang keluar mencapai US$4,4 miliar atau setara dengan lebih dari 59.000 BTC. Arus keluar ini terjadi selama 13 hari perdagangan berturut-turut dan menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga Bitcoin.
Harga Bitcoin sempat bergerak di bawah level psikologis US$60.000, namun kini mulai stabil di kisaran US$66.000 dengan kapitalisasi pasar sekitar US$1,3 triliun. Ethereum juga mengalami koreksi meskipun aktivitas fundamental di dalam ekosistemnya masih menunjukkan pertumbuhan yang kuat.
Strategy Kembali Akumulasi, Investor Institusi Masuk Saat Koreksi
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menjelaskan bahwa pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen makro dan arus dana institusi. Meski harga tertekan, indikator fundamental seperti pertumbuhan staking Ethereum dan aktivitas akumulasi institusi justru menunjukkan tren positif.
Salah satu contohnya adalah aksi Strategy, perusahaan yang sempat menjual 32 BTC pada awal Juni. Pasar sempat merespons negatif karena aksi tersebut dianggap bertentangan dengan strategi akumulasi jangka panjang. Namun sentimen berbalik setelah Strategy kembali membeli sekitar 1.550 BTC senilai lebih dari US$100 juta hanya beberapa hari kemudian.
“Aksi Strategy menunjukkan bahwa investor institusi masih aktif memanfaatkan koreksi pasar untuk melakukan akumulasi. Ini menjadi pengingat bahwa pergerakan jangka pendek sering kali dipengaruhi oleh headline, sementara keputusan investasi institusi umumnya tetap berorientasi jangka panjang,” ujar Yudhono Rawis.
Bagaimana Strategi Investor di Tengah Volatilitas?
Yudhono menambahkan, pergerakan aset digital saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh perkembangan industri blockchain, tetapi juga oleh faktor ekonomi makro seperti inflasi, suku bunga, dan aliran modal global. Bagi investor pemula, pendekatan akumulasi bertahap atau dollar cost averaging (DCA) dinilai tetap relevan. Sementara bagi trader, disiplin manajemen risiko menjadi faktor penting karena pasar masih sangat sensitif terhadap berita dan sentimen.
“Volatilitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan pasar. Yang terpenting bagi investor adalah memahami risiko, menjaga disiplin strategi, dan tetap fokus pada tujuan investasi jangka panjang,” tutup Yudho.
Para investor di Sulawesi Utara yang memiliki eksposur terhadap aset digital maupun instrumen pasar modal konvensional disarankan untuk terus memantau perkembangan kebijakan moneter domestik dan dinamika pasar global. Kombinasi kenaikan suku bunga dan tekanan di pasar kripto menciptakan lingkungan investasi yang membutuhkan kewaspadaan ekstra.