MANADO — Setelah melalui periode fluktuasi yang cukup menekan, harga kopra dan cengkih di Sulawesi Utara akhirnya menunjukkan tren positif pada pekan pertama Juli 2026. Kondisi ini langsung disambut antusias oleh para petani di sentra-sentra produksi seperti Minahasa, Bolaang Mongondow, dan Kepulauan Sangihe.
Kenaikan harga ini terjadi di tengah meningkatnya permintaan pasar, baik domestik maupun untuk industri pengolahan. Kopra, yang merupakan bahan baku minyak kelapa, dan cengkih yang menjadi rempah utama rokok kretek, menjadi penopang utama ekonomi kerakyatan di Sulawesi Utara.
Meski data angka pasti kenaikan belum dirilis secara resmi oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat, para tengkulak di tingkat desa melaporkan bahwa harga jual di petani mulai bergerak naik. Kopra kualitas baik misalnya, yang sebelumnya sempat terpuruk di harga rendah, kini mulai menyentuh level yang lebih menguntungkan bagi petani. Cengkih kering pun mengalami hal serupa dengan permintaan yang menguat.
Beberapa faktor disebut-sebut menjadi pemicu kenaikan ini. Pertama, mulai pulihnya permintaan dari industri pengolahan di Pulau Jawa. Kedua, pasokan kopra dan cengkih dari petani Sulawesi Utara yang mulai terbatis akibat musim panen yang belum merata di semua wilayah. Kombinasi antara permintaan yang naik dan pasokan yang terkendali membuat harga bergerak positif.
Dampaknya langsung terasa di kantong petani. Banyak dari mereka yang sempat menahan hasil panen kini mulai melepas stoknya. “Kami sudah lama menunggu harga seperti ini. Lumayan untuk menutup biaya produksi dan kebutuhan sehari-hari,” ujar seorang petani di Kabupaten Minahasa, yang enggan disebut namanya. Para petani berharap tren positif ini bisa bertahan hingga musim panen raya mendatang.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara sendiri diharapkan dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat sistem tata niaga komoditas perkebunan. Stabilisasi harga jangka panjang menjadi kunci agar petani tidak lagi terjebak dalam siklus harga murah saat panen raya tiba.
Belum ada kepastian, namun sinyal dari pasar menunjukkan permintaan masih cukup kuat. Para petani disarankan untuk terus memantau perkembangan harga di tingkat koperasi atau dinas terkait agar bisa menjual hasil panen di momen yang tepat.
Petani kecil dan pekebun rakyat di daerah-daerah sentra produksi menjadi pihak yang paling merasakan dampak positifnya. Selain meningkatkan pendapatan rumah tangga, kenaikan ini juga memutar roda ekonomi di tingkat desa, mulai dari jasa angkut hingga warung sembako.