SULAWESI UTARA — Tujuh perusahaan pelat merah yang bergabung dalam konsolidasi ini adalah Pelindo Sinergi Lokaseva Multiterminal Indonesia, Pelindo Sinergi Lokaseva Prima Indonesia Logistik, Pos Logistics, Pelni Logistics, PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN), PT Varia Usaha Dharma Segara (VUDS), dan Krakatau Integrated Logistics.
Senior Director Corporate Strategy PT Danantara Asset Management (DAM) Aurelius Altius Rosimin mengatakan penggabungan ini merupakan bagian dari strategi transformasi portofolio DAM untuk mendukung Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.
“Penggabungan ini bertujuan untuk memangkas fragmentasi entitas, mengoptimalkan skala usaha, serta mengeliminasi tumpang tindih layanan yang selama ini mengganjal efisiensi logistik pelat merah,” ujar Aurelius di sela penandatanganan Shareholders Agreement (SHA) dan Akta Penggabungan di Jakarta.
Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Daud Joseph menyebut perusahaannya memiliki infrastruktur yang solid untuk menjadi fondasi integrasi layanan multimoda dan digitalisasi logistik nasional.
“Pos Indonesia saat ini didukung jaringan 5.597 titik layanan yang menjangkau seluruh pelosok Indonesia, didukung armada sebanyak 8.032 unit, dengan jangkauan layanan ke lebih dari 220 negara,” kata Daud.
Perusahaan pelat merah yang identik dengan surat dan paket itu kini melayani lebih dari 2,2 juta pelanggan dan memproses lebih dari 300 ribu paket per hari. Angka ini menunjukkan skala operasi yang siap menopang ekosistem logistik terintegrasi dari hulu ke hilir.
Daud menjamin proses integrasi ini tidak akan mengganggu layanan kepada pelanggan. Selama masa transisi yang berjalan bertahap, operasional tetap berjalan normal.
“Satu hal yang menjadi komitmen utama adalah menjaga kontinuitas layanan kepada seluruh pelanggan selama proses transformasi berlangsung. Para pelanggan dapat dipastikan tidak akan terganggu oleh proses penggabungan ini,” ujar Daud.
Ia juga memastikan proses integrasi akan mengedepankan prinsip Good Corporate Governance (GCG) dan manajemen risiko yang ketat. Konsolidasi ini diharapkan mampu memperbesar skala bisnis, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus mengurangi duplikasi fungsi dan biaya yang selama ini membebani logistik pelat merah.
Biaya logistik Indonesia saat ini masih berada di atas rata-rata negara ASEAN. Melalui merger ini, pemerintah menargetkan daya saing layanan logistik nasional bisa meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.