MANADO — Kepala Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara Dr Watekhi menyampaikan capaian 4,85 persen itu dalam penyampaian Berita Resmi Statistik, Kamis (5/10/2026). Angka tersebut menandai perlambatan berturut-turut sepanjang empat triwulan terakhir. Dari 5,95 persen pada triwulan IV-2025, turun ke 5,54 persen di triwulan I-2026, lalu 5,42 persen pada triwulan II-2026.
Penurunan paling tajam terjadi pada triwulan III-2026, dengan selisih 0,57 poin persentase dari triwulan sebelumnya. Watekhi menyebut tekanan pada sejumlah lapangan usaha sebagai pemicu. Sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan menempati porsi terbesar dalam struktur PDRB Sulut, yakni 19,69 persen.
Namun sektor itu justru terkontraksi 2,03 persen secara tahunan. Transportasi dan pergudangan ikut menyusut 3,31 persen. Industri pengolahan serta jasa keuangan dan asuransi masing-masing terkontraksi 0,07 persen.
Watekhi menjelaskan kemarau berkepanjangan akibat El Nino mengganggu aktivitas produksi di sektor pertanian. Proses panen sejumlah komoditas terdampak, sehingga produksi ikut tertekan.
"Fenomena El Nino yang menyebabkan kemarau berkepanjangan turut memengaruhi aktivitas produksi. Kondisi tersebut mengganggu proses panen dan menekan produksi sejumlah komoditas," kata Watekhi di sela penyampaian BRS.
Meski begitu, beberapa lapangan usaha masih tumbuh positif. Perdagangan, konstruksi, dan administrasi pemerintahan disebut Watekhi mencatatkan kinerja yang lebih baik.
Kepala Bappeda Sulut Dr Elvira Katuuk memastikan pemerintah provinsi segera mengevaluasi lapangan usaha yang mengalami kontraksi. Koordinasi lintas organisasi perangkat daerah disebut menjadi bagian dari upaya menyinergikan program pembangunan.
Fokusnya antara lain meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat infrastruktur pendukung produksi dan irigasi, memperluas akses petani terhadap sarana produksi, serta mengembangkan diversifikasi komoditas. Langkah terakhir ditempuh untuk mengurangi risiko akibat perubahan iklim.
Ekonom Sulut Dr Robert Winerungan menilai perlambatan tidak bisa semata dikaitkan dengan El Nino atau kemarau panjang. Menurutnya, ada persoalan lebih mendasar yang perlu dibenahi.
Winerungan menyoroti belum optimalnya upaya pemerintah daerah melalui OPD terkait dalam menjaga produktivitas sektor-sektor yang berhubungan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Persoalan itu, menurut dia, ikut menentukan daya tahan ekonomi daerah saat menghadapi tekanan eksternal seperti cuaca ekstrem.